Nama guru muda itu adalah ibu Dewi, muridnya adalah Budi.
Seperti guru pada umumnya, Dewi berdiri di depan murid kelas 5 SD yang dididik dan berbohong dengan mengatakan dia mencintai murid"nya semua setara. Bagaimana itu mungkin, dideretan pertama terpekur ditempat duduknya, seorang aNAK BERNAMA Budi. Dewi sudah memperhatikan murid yang satu ini, dia tidak bergaul dengan murid2 yang lainnya. Pakaiannya kumal, rambut dan wajahnya kusam. Budi sungguh tidak menyenangkan. Sampai dititik dimana Dewi dengan gembira mengambil pen merah dan menuliskan nol besar pada buku tulis budi.
Disekolah itu Dewi wajib mempelajari prestasi murid2 ditahun sebelumnya. Dia menunda melihat laporan Budi sampai yang terakhir. Namun dia sangat terkejut ketika menjumpai hasil penilaian dari guru budi di kelas 1. Guru itu menulis, "Budi adalah murid yang cerdas dan periang, hasil kerjanya bagus dan selalu berkelakuan baik, dia seorang yang menyenangkan."
Guru dikelas dua menilai, "Budi adalah murid yang cerdik dan cekatan. Dia disenangi teman"nya, namun dia berada dalam masalah karena ibunya sakit keras. Suasana dirumah tidaklah begitu mendukungnya."
Guru dikelas 3 menilai, "kematian ibunya berakibat buruk terhadapnya, walaupun ia berusaha keras namun ayahnya tidaklah mendukung. Kehidupan rumahnya cepat/lambat akanmempengaruhinya apabila tidak diambil langkah-langkah perbaikan."
Guru dikelas 4 menilai, "Budi menjadi penyendiri dan tidak tertarik dengan sekolah. Dia tidak senang bergaul dan sering tidur dikelas."
Sekarang Dewi menyadari keadaan yang sebenarnya. Ada rasa malu pada diri sendiri karena memperlakukan Budi demikian. Perasaannya semakin terunyah saat acara bagi hadiah dihari guru, semua murid membungkus hadiah mereka dengan kertas yang menarik. Budi membungkusnya dengan kertas coklat bekas makanan. Pedih rasanya Dewi harus membuka hadiah itu.
Murid lainnya mulai tertawa menemukan kalung yang sudah copot sana sini dan seperempat botol minyak wangi bekas. Tapi Dewi menghentikan tawa murid'nya dengan memakai minyak wangi itu dibajunya. Budi tidak langsung pulang hari itu. Dia menunggu sampai yang lainnya pulang kemudian mendekati ibu Dewi sambil berkata, "bu dewi, hari ini ibu wanginya seperti ibu saya dikala dia hidup."
Setelah Budi pergi, Dewi tidak dapat menahan air matanya. Dia menangis paling sedikit satu jam.
Mulai hari itu, Dewi berhenti mengajar hanya mengajar menulis, membaca dan berhitung. Dan mulai benar2 mengajar murid'nya. Dewi memberikan perhatian khuss kepada Budi. semenjak itu Budi sedikit demi sedikit mulai bengkit. semakin diberi semangat semakin baik jadinya. Diakhir tahun itu Budi menjadi murid yang terpintar dikelas. Meskipun Dewi berbohong didepan kelas bahwa dia menyayangi muridnya semua setara. Budilah murid kesayangannya.
Setahun setelah itu sebuah note dari budi mengatakan bahwa walaupun hidup tidak selamanya gampang dia telah berhasil mendapatkan sarjananya dengan penghargaan tertinggi dan dia meyakinkan sekali lagi bahwa ibu Dewi masih merupakan guru terbaik dan guru pavorit sepanjang hidupnya.
kemudian 4 tahun setelah itu, sebuah note lagi dari Budi. kali ini menerangkan bahwa setelah mendapat gelar sarjana dia melanjutkan mengambil gelar Doktorl. seperti sebelumnya, Budi menulis bahwa Dewi masih merupakan gurunya yang terbaik. tapi kali ini ditanda tangani oleh DR.Budi.
Kemudian satu lagi note tidak lama setelah itu. dalam surat itu dia menulis dia bertemu dengan seorang gadis dan bermaksud menikahinya. Ayah budi telah meninggal berapa tahun yang lalu, jadi dia menanyakan kesediaan ibu Dewi untuk duduk di kursi kehormatan sebagai wali dari pihak lelaki. Tempat yang seharusnya diduduki oleh ibu Budi. Tentu Dewi menyaggupinya.
Dimalam pernikahan itu, Dewi mengenakan kalung yang diberikan oleh Budi. Tidak lupa juga dia memakai minyak wangi yang dipakai ibunya Budi. mereka saling berpelukan, kemudian DR.Budi membisikkan, "Terimakasih Ibu Dewi karena percaya pada saya. dan memperlihatkan kepada saya bahwa saya dapat membuat perbedaan."
Dengan air mata dipipinya Dewi berbwli berbisik, "Budi, kau salah. Kaulah yang sebenarnya mengajarkan bahwa saya dapat membuat perbedaan. saya tidak tahu mengajar sampai saya bertemu kamu."
Seperti guru pada umumnya, Dewi berdiri di depan murid kelas 5 SD yang dididik dan berbohong dengan mengatakan dia mencintai murid"nya semua setara. Bagaimana itu mungkin, dideretan pertama terpekur ditempat duduknya, seorang aNAK BERNAMA Budi. Dewi sudah memperhatikan murid yang satu ini, dia tidak bergaul dengan murid2 yang lainnya. Pakaiannya kumal, rambut dan wajahnya kusam. Budi sungguh tidak menyenangkan. Sampai dititik dimana Dewi dengan gembira mengambil pen merah dan menuliskan nol besar pada buku tulis budi.
Disekolah itu Dewi wajib mempelajari prestasi murid2 ditahun sebelumnya. Dia menunda melihat laporan Budi sampai yang terakhir. Namun dia sangat terkejut ketika menjumpai hasil penilaian dari guru budi di kelas 1. Guru itu menulis, "Budi adalah murid yang cerdas dan periang, hasil kerjanya bagus dan selalu berkelakuan baik, dia seorang yang menyenangkan."
Guru dikelas dua menilai, "Budi adalah murid yang cerdik dan cekatan. Dia disenangi teman"nya, namun dia berada dalam masalah karena ibunya sakit keras. Suasana dirumah tidaklah begitu mendukungnya."
Guru dikelas 3 menilai, "kematian ibunya berakibat buruk terhadapnya, walaupun ia berusaha keras namun ayahnya tidaklah mendukung. Kehidupan rumahnya cepat/lambat akanmempengaruhinya apabila tidak diambil langkah-langkah perbaikan."
Guru dikelas 4 menilai, "Budi menjadi penyendiri dan tidak tertarik dengan sekolah. Dia tidak senang bergaul dan sering tidur dikelas."
Sekarang Dewi menyadari keadaan yang sebenarnya. Ada rasa malu pada diri sendiri karena memperlakukan Budi demikian. Perasaannya semakin terunyah saat acara bagi hadiah dihari guru, semua murid membungkus hadiah mereka dengan kertas yang menarik. Budi membungkusnya dengan kertas coklat bekas makanan. Pedih rasanya Dewi harus membuka hadiah itu.
Murid lainnya mulai tertawa menemukan kalung yang sudah copot sana sini dan seperempat botol minyak wangi bekas. Tapi Dewi menghentikan tawa murid'nya dengan memakai minyak wangi itu dibajunya. Budi tidak langsung pulang hari itu. Dia menunggu sampai yang lainnya pulang kemudian mendekati ibu Dewi sambil berkata, "bu dewi, hari ini ibu wanginya seperti ibu saya dikala dia hidup."
Setelah Budi pergi, Dewi tidak dapat menahan air matanya. Dia menangis paling sedikit satu jam.
Mulai hari itu, Dewi berhenti mengajar hanya mengajar menulis, membaca dan berhitung. Dan mulai benar2 mengajar murid'nya. Dewi memberikan perhatian khuss kepada Budi. semenjak itu Budi sedikit demi sedikit mulai bengkit. semakin diberi semangat semakin baik jadinya. Diakhir tahun itu Budi menjadi murid yang terpintar dikelas. Meskipun Dewi berbohong didepan kelas bahwa dia menyayangi muridnya semua setara. Budilah murid kesayangannya.
Setahun setelah itu sebuah note dari budi mengatakan bahwa walaupun hidup tidak selamanya gampang dia telah berhasil mendapatkan sarjananya dengan penghargaan tertinggi dan dia meyakinkan sekali lagi bahwa ibu Dewi masih merupakan guru terbaik dan guru pavorit sepanjang hidupnya.
kemudian 4 tahun setelah itu, sebuah note lagi dari Budi. kali ini menerangkan bahwa setelah mendapat gelar sarjana dia melanjutkan mengambil gelar Doktorl. seperti sebelumnya, Budi menulis bahwa Dewi masih merupakan gurunya yang terbaik. tapi kali ini ditanda tangani oleh DR.Budi.
Kemudian satu lagi note tidak lama setelah itu. dalam surat itu dia menulis dia bertemu dengan seorang gadis dan bermaksud menikahinya. Ayah budi telah meninggal berapa tahun yang lalu, jadi dia menanyakan kesediaan ibu Dewi untuk duduk di kursi kehormatan sebagai wali dari pihak lelaki. Tempat yang seharusnya diduduki oleh ibu Budi. Tentu Dewi menyaggupinya.
Dimalam pernikahan itu, Dewi mengenakan kalung yang diberikan oleh Budi. Tidak lupa juga dia memakai minyak wangi yang dipakai ibunya Budi. mereka saling berpelukan, kemudian DR.Budi membisikkan, "Terimakasih Ibu Dewi karena percaya pada saya. dan memperlihatkan kepada saya bahwa saya dapat membuat perbedaan."
Dengan air mata dipipinya Dewi berbwli berbisik, "Budi, kau salah. Kaulah yang sebenarnya mengajarkan bahwa saya dapat membuat perbedaan. saya tidak tahu mengajar sampai saya bertemu kamu."


