RSS
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

PeLajaran Yang DitakuTi



 Hai Guys and GaLz..
Q pengen ngerutip nih dikitt.. moga bermanfaat yaw,, ^^!
Satu-satunya cara mengatasi rasa takut  yang ada di diri kita adalah dengan menghadapi yang kita takuti.. ((?) Loh koq..? ) tapi bner loh.. kaarena selalu ingin mengalami sesuatu yang kita perlukan , kita pun harus ingin mengalami sesuatu yang kita takuti.. 
                Oleh karena itu , kalau kamu2 takut berhutang misalnya, nah.. kamu harus merasakannya.
Kalau kamu takut kesepian, rasakan.. lalu hilangkan perasaan itu.
Kalau Takut malu, cobalah menundukkan kepala. Cara demikian mendorong pertumbuhan .
So,, ga ada salahnya kan..?
Membuka pikiran menjadi lebih dewasa adalah senjata yang ampuh dalam mengambil kebijaksanaan..,
Terkadang keadaan tertekan bisa membuat seseorang menjadi berpikiran pendek, sempit dan mudah putus asa..
Tak bisa dipungkiri,, hidup dan masalah merupakan satu paket yang pasti dijalani oleh semua orang,
Tergantung bagaimana mereka mengatur paket-paket tersebut agar tertata rapi.
Kalau saja kita ceroboh,, kita akan tenggelam bersama masalah-masalah itu tanpa bisa menemukan jalan keluarnya.. Ingat ya teman-teman ku,, masalah ada bukan untuk diratapi.. tapi untuk di cari jalan keluarnya..
Hidup dibandingkan ketika kita tersandung kerikil – semacam peringatan. Kalau mengabaikan kerikil, kita akan tersandung batu besar. Kalau batu besar tidak kita perdulikan, kita akan tersandung batu rasaksa. Jika kita jujur, kita dapat menyadari bahwa apa yang kita pedulikan sebetulnya sinyal peringatan. Dan kemudian saraf kita otomatis bertanya, “kenapa mesti saya?”.
                Tiap orang yang ada di hidup kita menjadi guru, sebenarnya.. yah, walaupun mengesalkan, mereka mengajari dengan menunjukkan segala kekurangan kita. Tetapi, hanya karena mereka guru, nggak berarti Kamu harus menyukai mereka.

Pelajaran Cinta




Nama guru muda itu adalah ibu Dewi, muridnya adalah Budi.

Seperti guru pada umumnya, Dewi berdiri di depan murid kelas 5 SD yang dididik dan berbohong dengan mengatakan dia mencintai murid"nya semua setara. Bagaimana itu mungkin, dideretan pertama terpekur ditempat duduknya, seorang aNAK BERNAMA Budi. Dewi sudah memperhatikan murid yang satu ini, dia tidak bergaul dengan murid2 yang lainnya. Pakaiannya kumal, rambut dan wajahnya kusam. Budi sungguh tidak menyenangkan. Sampai dititik dimana Dewi dengan gembira mengambil pen merah dan menuliskan nol besar pada buku tulis budi.


Disekolah itu Dewi wajib mempelajari prestasi murid2 ditahun sebelumnya. Dia menunda melihat laporan Budi sampai yang terakhir. Namun dia sangat terkejut ketika menjumpai hasil penilaian dari guru budi di kelas 1. Guru itu menulis, "Budi adalah murid yang cerdas dan periang, hasil kerjanya bagus dan selalu berkelakuan baik, dia seorang yang menyenangkan."


Guru dikelas dua menilai, "Budi adalah murid yang cerdik dan cekatan. Dia disenangi teman"nya, namun dia berada dalam masalah karena ibunya sakit keras. Suasana dirumah tidaklah begitu mendukungnya."


Guru dikelas 3 menilai, "kematian ibunya berakibat buruk terhadapnya, walaupun ia berusaha keras namun ayahnya tidaklah mendukung. Kehidupan rumahnya cepat/lambat akanmempengaruhinya apabila tidak diambil langkah-langkah perbaikan."


Guru dikelas 4 menilai, "Budi menjadi penyendiri dan tidak tertarik dengan sekolah. Dia tidak senang bergaul dan sering tidur dikelas."


Sekarang Dewi menyadari keadaan yang sebenarnya. Ada rasa malu pada diri sendiri karena memperlakukan Budi demikian. Perasaannya semakin terunyah saat acara bagi hadiah dihari guru, semua murid membungkus hadiah mereka dengan kertas yang menarik. Budi membungkusnya dengan kertas coklat bekas makanan. Pedih rasanya Dewi harus membuka hadiah itu.


Murid lainnya mulai tertawa menemukan kalung yang sudah copot sana sini dan seperempat botol minyak wangi bekas. Tapi Dewi menghentikan tawa murid'nya dengan memakai minyak wangi itu dibajunya. Budi tidak langsung pulang hari itu. Dia menunggu sampai yang lainnya pulang kemudian mendekati ibu Dewi sambil berkata, "bu dewi, hari ini ibu wanginya seperti ibu saya dikala dia hidup."

Setelah Budi pergi, Dewi tidak dapat menahan air matanya. Dia menangis paling sedikit satu jam.

Mulai hari itu, Dewi berhenti mengajar hanya mengajar menulis, membaca dan berhitung. Dan mulai benar2 mengajar murid'nya. Dewi memberikan perhatian khuss kepada Budi. semenjak itu Budi sedikit demi sedikit mulai bengkit. semakin diberi semangat semakin baik jadinya. Diakhir tahun itu Budi menjadi murid yang terpintar dikelas. Meskipun Dewi berbohong didepan kelas bahwa dia menyayangi muridnya semua setara. Budilah murid kesayangannya.


Setahun setelah itu sebuah note dari budi mengatakan bahwa walaupun hidup tidak selamanya gampang dia telah berhasil mendapatkan sarjananya dengan penghargaan tertinggi dan dia meyakinkan sekali lagi bahwa ibu Dewi masih merupakan guru terbaik dan guru pavorit sepanjang hidupnya.


kemudian 4 tahun setelah itu, sebuah note lagi dari Budi. kali ini menerangkan bahwa setelah mendapat gelar sarjana dia melanjutkan mengambil gelar Doktorl. seperti sebelumnya, Budi menulis bahwa Dewi masih merupakan gurunya yang terbaik. tapi kali ini ditanda tangani oleh DR.Budi.


Kemudian satu lagi note tidak lama setelah itu. dalam surat itu dia menulis dia bertemu dengan seorang gadis dan bermaksud menikahinya. Ayah budi telah meninggal berapa tahun yang lalu, jadi dia menanyakan kesediaan ibu Dewi untuk duduk di kursi kehormatan sebagai wali dari pihak lelaki. Tempat yang seharusnya diduduki oleh ibu Budi. Tentu Dewi menyaggupinya.


Dimalam pernikahan itu, Dewi mengenakan kalung yang diberikan oleh Budi. Tidak lupa juga dia memakai minyak wangi yang dipakai ibunya Budi. mereka saling berpelukan, kemudian DR.Budi membisikkan, "Terimakasih Ibu Dewi karena percaya pada saya. dan memperlihatkan kepada saya bahwa saya dapat membuat perbedaan."


Dengan air mata dipipinya Dewi berbwli berbisik, "Budi, kau salah. Kaulah yang sebenarnya mengajarkan bahwa saya dapat membuat perbedaan. saya tidak tahu mengajar sampai saya bertemu kamu."